Minggu, 07 Juli 2013

Jenis Manusia dari Kualitas Pembicaraannya





4 Jenis Manusia dari kualitas pembicaraannya


Hello, selamat datang bagi temen-temen yang baru singgah di blog ane.
Ini tulisan ane dapet dari sebuah blog yg sangat menginspirasi ane dan blog itu dari catatan seorang Ibu yang juga merupakan salah satu dosen populer di Kampus ane. Namanya ibu Siti Murtiyani Ph.D
Kalo ane bilang tulisan ini merupakan observasi beliau dari orang-orang yang beliau temui dan berinteraksi dengannya.
Kemudian beliau tuangkan lewat sosial networking, facebook.
Kalo biasanya di kampus ane Bu Siti area pembicaraanya gak jauh-jauh dari pembahasan karya tulis ilmiah, skripsi, paper, jurnal dan yang sangkut pautnya dengan perkuliahan dan kemahasiswaan.
Tapi tentu saja sebagai seorang Ibu, tidak bisa dibantahkan jika kegiatan anak-anak beliau di Kampus selalu dipantau baik secara langsung maupun dari sosial networking.
Langsung aj kawan, silakan cek sendiri tulisan ini dan jika ada yang tidak setuju bisa berkomentar.
KEPADA DIRI INI DAN TEMEN2, SAUDARA2, KAKAK2, SERTA ADIK2 DI FACEBOOK

ADA 4 JENIS MANUSIA DIUKUR DARI KUALITAS PEMBICARAANYA

Kemampuan diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah.. Orang-orang beriman tentu berhati-hati dalam menggunakan lidahnya.. Allah SWT berfirman :
“wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar”(QS 
al-Ahzab(33):70).
Sementara itu rosulullah saw.Bersabda,”Siapa beriman pada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”(hs Bhukhari Muslim)
Ada 4 jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraanya.
1.Orang yang berkualitas tinggi.
Kalau berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, zikir, dan sebagain orang seperti ini pembicaraanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara, sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat ketika disodorkan padanya tentang krisis, dengan tangkas ia menjawab,”krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis siapa tau kita lebih kreatif ? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. pokoknya jangan putus asa, semangat terus” Siapa saja yang berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa insa allah ia adalah manusia yang berkualitas.
2.Orang yang biasa saja.
cirinya selalu sibuk menceritakan peristiwa. melihat ada kereta api terguling ia ribut sekali. seolah dirinya yang kelindes kereta. ketika bertemu seorang artis,terus diceritakan tiada henti. pokoknya apa saja di komentari, ia seperti juru bicara yang wajib bicara kapanpun ada peristiwa Tidak peduli apakah peristiwa tersebut layak dikomentari atau tidak. ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang “pokoknya bunyi” padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan peristiwa. Terlebih lagi kita bisa memungut hikmah dari setiap peristiwa, InsyayAllah peristiwa apapun akan menjadi manfaat. Namun, jika kita tidak bisa mengambil hikmah dari peristiwa cuma bisa mengomentari akan menjadi kesia-siaan.

3.Orang rendahan.
Kalau berbicara isinya cuma mengeluh, mencela, atau menghina . Apa saja yang bisa jadi bahan keluhan.”aduuh ini pingang kok bisa jadi sakit begini?, hari ini kayaknya banyak masalah ni ?, ” ketika di kasih makanan “makanan kok dingin begini? coba kalau ada sambal, tentu lebih nikmat! Aduuh kenapa kerupuk ini kecil-kecil begini? “terus saja makanannya dikeluhkan padahal habis juga. Mengeluh dan mencela itulah hari-hari yang dilalui orang rendahan. seolah tiada hari yang di lalui tanpa keluh kesah. ketika turun hujan, hujan segera dicaci. “hujan melulu dimana-mana becek, jemuran gak kering-kering ”Ketika jalan macet mengeluh, Ketika lampu merah mengeluh, ada polisi mengeluh, seolah tiada hari tanpa keluh kesah alangkah menderitanya seseorang dipenjara dengan keluh kesah. dia tidak bisa membedakan mana nikmat mana musibah. seluruh hidupnya di maknai sebagai kesusahan, sehingga layak di keluhkan

4.Orang yang dangkal
Adalah mereka yang semua pembicaraanya suka menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasa atau kebaikan dirinya. padahal hidup ini adalah mengabdi untuk Allah. mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?. orang dangkal ini selalu menyelipkan kesombonganya dan membanggakan diri di sela-sela pembicaraanya. Kita harus berhati-hati dalam berbicara, berbicara itu di batasi oleh etika. hendaklah kita diatas rel yang benar. jangan sampai kita jatuh pada apa yang Allah larang.

Dalam berbicarapun kita jangan sampai bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah pekerjaan yang ringan bahkan sebagian orang di anggap mengasikkan, namun jika dilakukan dengan sengaja apalagi dilakukan dengan kesadaran penuh dan tekat menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar
”dan janganlah kalian mengunjing sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka kalian salah-seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya, Dan takutlah kalian kepada Allah,sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi mahapenyayang.”(QS al-Hujuraat[49]:12).
From Mother of Hamfara,, Bu Siti Murtiyani Ph.D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar