Minggu, 07 Juli 2013

Antara Aurat dan Ketaatan



Blog ini biasanya bahasanya formal dan kadang gak gaul, tapi gue coba ingin menulis dengan bahasa gue sendiri (hhe)..untuk tulisan yang satu ini dan mungkin akan ada banyak tulisan dengan bahasa anak gaul -katanya..hha entahlah

Tulisan ini hanya sedikit keprihatinan saya dengan kaum hawa sekarang ini yang tidak sadar betapa pentingnya menutup aurat (bukan melapisinya) yang tidak lain tidak bukan adalah perintah dari Asy-Syari'. artinya menutup aurat dan sholat sama-sama kewajiban yang kedua-duanya tidak berbeda pula dengan kewajiban meninggalkan riba, zina, judi, khamr dan lain lain.
So, berarti meninggalkan kewajiban maka termasuk maksiat kepada Allah, dengan kata lain begitu pentingnya ketaatan kita pada Allah sebagai bentuk konsekuensi aqidah kita, yang berimplikasi jika kita bermaksiat kepada Allah maka secara tidak sadar sebenarnya ada kesalahan dalam kita beraqidah. Sedangkan yang namanya aqidah merupakan poros dari agama Islam, merupakan pembeda anatara Iman dan Kafir. Dan bisa disimpulkan jika kita bermasalah dalam aqidah maka kira2 jatuhnya itu kalau tidak munafik (fasik), kafir atau dzolim. Begitu kata ustadz Titok Priastomo. Nah lho?

Monggo disimak saja beberapa kata-kata yang gue coba rangkai dalam bahasa yang -semoga- tidak alay, tidak lebay dan mampu dipahami dan dicerna.
Terkhusus tulisan ini untuk muslimah.

Wahai kau muslimah, engkau makhluk mulia yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Mulia, karenanya janganlah kau rendahkan kemuliaanmu dengan mencampakkan ketaatan..
ukhti, mba, teteh, neng, nok kenakan pakaian ketaatanmu..
tinggalkan pakaian ketatmu..

tutupi auratmu..
jangan pernah kamu obral pahamu dengan rok mini..
jangan pernah kau kenakan pakaian yang memperlihatkan auratmu dari jenis celana panjang, baju ketat, baju transparan, celana pendek ataupun hot pants..
kecuali itu untuk suamimu yang berhak..
kenakan jilbabmu, tutupi perhiasanmu di depan semua orang yang bukan muhrim..
meski jika semua lelaki telah kehilangan selera terhadap perempuan, jangan pernah kau pakai rok mini..
meski jika negara ini telah menjamin tidak ada lagi pemerkosa berkeliaran di jalanan, tidak ada lagi penjahat kelamin gentayangan mencari kesempatan dan mangsa yang lemah, jangan pernah pakai rok mini, apalagi bikini..
Wahai bidadari, buah hati, darah daging dan tulang rusuk kaum adam…
kapanpun, di manapun, selama masih termaktub perintah dalam Al Kitab Al karim, jangan pernah khianati ketaatan pada PemilikMu..

Wahai makhluk lemah lembut nan penuh kasih sayang
Ingatkah engkau ketika dikabaran oleh Rasulmu..
Bahwa nerakaNya dihuni oleh kebanyakan dari golongan kalian
Penyebabnya tidak lain tidak bukan karena,
Kau tiada mampu menjaga kehormatan keluarga,
Kau tiada mampu menaati perintah suamimu,
Kau tiada mampu menaati titah Tuhanmu, dan
Kau tiada mampu menjaga auratmu

Wahai pelengkap ketaatan kaum adam,
Jangan kau pilih jalan-jalan setan yang terkutuk
Yakni jalan yang telah didekorasi dengan begitu banyak
kesenangan hawa nafsu
cukuplah kau berdandan untuk suamimu
jika kau tebarkan kepada khalayak
tabarruj begitu kata ustadz
dan hukumnya haram

Wahai anda calon ibu terbaik
sungguh Islam adalah jalan
Garis lurus yang nyata benarnya
ikuti maka tiada akan tersesat di dunia ini

————————————–
Seorang muslimah memiliki adab sendiri dalam etika berpakaian yang telah diatur oleh Al Quran. Menutup aurat di depan non muhrim adalah wajib. Bagi seorang laki-laki maka mengendalikan pandangan adalah kewajiban. Seperti keharaman daging babi yang mutlak. Ia haram karena sang Khalik mengharamkan. Ia haram bukan karena sekadar bermacam najis yang dikandungnya. Jika suatu saat ada teknologi yang bisa menghilangkan najis dan aneka sumber penyakit, tetap saja ia haram karena Allah mendahulukan keharamannya.

Menutup aurat bagi muslimah adalah wajib, meski jika kelak tidak ada lagi pelecehan perempuan sedikitpun di muka bumi ini. Begitu pula menundukkan mata dari syahwat tetap sebagai keharusan bagi seorang laki-laki di hadapan perempuan non muhrim, meski perempuan itu telah menutup auratnya rapat-rapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar